APAKAH KAUM ARAB SELALU MUSLIM DAN KAUM YAHUDI ITU SELALU BERAGAMA KRISTEN?

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Katakanlah kepada orang Israel: Kamu ini bangsa yang tegar tengkuk… (Kel. 33:5)

Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! (Rm. 3:29)

Seringkali orang berpikir dan berpendapat bahwa orang Arab pasti beragama Islam, sedang orang Yahudi pasti kebanyakan beragama Kristen. Betulkah pandangan-pandangan di atas?

Penyebutan orang-orang Kristen atau Kristianos (Arab, ‘Massihi-yyin’) semula adalah ejekan orang-orang Yahudi di Antiokhia (Syria) kepada murid-murid Yesus yang ada di sana. Murid-murid ini masih terikat kepada ibadah Yahudi seperti ke sinagoga-sinagoga Yahudi pada hari Sabat (Kis. 13:14-15; 15:21 dsb) dan masih berkewajiban mengunjungi Bait Allah pada hari-hari raya (Kis. 2:46; 21:26 dsb). Tetapi karena mereka juga memberitakan nama Yesus dan memecah-mecahkan roti (Sakramen Ekaristi Kudus) pada hari Minggu, kecurigaan orang-orang Yahudi semakin menjadi-jadi untuk mengusir mereka dari perkumpulan Yahudi (Kis. 4:2; 5:28). Sejak pembunuham diakon Stefanus di luar gerbang Yerusalem oleh orang-orang Yahudi (Kis. 7:54-60), maka resmilah murid-murid Yesus menerima cap ‘sekte’ orang Yahudi tetapi sekaligus penganut Jalan Yesus Kristus (Kis. 9:2).

Menurut William W. Haddad pada tahun sekitar 1977, jumlah orang-orang Kristen sekitar 7% dari seluruh penduduk yang mayoritas beragama Islam. Jumlah umat Kristen Orthodox di Timur Tengah pada masa itu adalah sekitar 20 juta orang. Perkiraan ini tentunya bersifat kasar. Perkiraan jumlah ini bisa saja berbeda, apakah jumlahnya lebih rendah dari 20 juta orang ataukah malah lebih besar dari 20 juta orang. Untuk jelasnya bisa dibaca buku Anton Wessel “Arab dan Christian” dan El Hasan bin Tallal “Christianity in the Arab World”.

Kebanyakan orang Kristen Arab yang tinggal di Timur Tengah berlokasi di negara-negara berikut ini:

Libanon (35-45% dari total populasi negeri)
Palestina (5-10%)
Yordania (6-12%)
Syria (10%)
Sudan (10%)
Mesir 6-12%
Iraq (3%)

Secara total sekitar 5-6% populasi negara-negara Arab adalah orang Kristen. Hal ini penting untuk dicatat bahwa TIDAK SEMUA ORANG ARAB ADALAH MUSLIM dan MUSLIM BUKANLAH SEMUA ORANG ARAB. Beberapa orang Kristen Arab yang tinggal di Arab akan menolak disebut sebagai Arab (dalam pengertian Muslim) karena mereka tetap mempertahankan warisan leluhur mereka yang mendiami tanah itu sebelum kemunculan Islam. Misalnya orang Kristen Libanon mempertahankan akar Phoenician kuno mereka. Koptik Mesir berakar pada Mesir kuno di bawah dinasti Firaun. Demikian juga dengan Chaldeans dan Asyur, Irak yang menganggap diri mereka sebagai penduduk asli dan penetap di Irak sekarang.

Menurut Wikipedia, the free encyclopedia, jumlah populasi orang Arab Kristen di seluruh dunia sekitar 30,000,000-35,000,000 orang, meliputi wilayah-wilayah:

Mesir : 4,500,000
Syria : 2,000,000
Lebanon : 1,300,000
Iraq : 1,000,000
Yordan : 370,000
Kanada : 350,000
Uni Eropah : 350,000
Australia : 140,000
Israel : 122,000
Palestina : 75,500

Kita selama ini menutup mata dengan adanya kenyataan eksistensi lebih dari 30 juta orang Kristen Arab di Dunia Arab. Pangeran Yordania, El Hasan bin Tallal menegaskan fakta eksistensi dan kehidupan rukun orang Kristen Arab dan Muslim Arab.

Masyarakat awam di Indonesia tidak banyak yang tahu, ada begitu banyak tokoh Kristen bangsa Arab yang terkenal, misalnya: Émile Jamil Lahoud yang adalah mantan Presiden Libanon; Mikhail Yuhanna, (bhs. Arab: ميخائيل يوحنا, Miha’ il Yūḥannā) kemudian dikenal secara populer sebagai Tariq Aziz atau Tareq Aziz (bhs. Arab: طارق عزيز) yang menjadi mantan Perdana Menteri Irak pada masa pemerintahan Saddam Hussein, seorang Katolik Khaldea (al-kanīsä ‘l-kaldāniyyä ‘l-kātholikiyyä); Boutros Boutros-Ghali (bhs. Arab: بطرس بطرس غالي), mantan Menteri Luar Negeri Mesir dan Sekretaris Jendral PBB yang keenam, seorang Kristen Orthodox Koptik Mesir; Hanan Daoud Khalil Ashrawi, seorang Kristen Anglikan dan George Habash (bhs. Arab: جورج حبش‎), seorang Kristen Orhodox Yunani di Palestina, keduanya pemimpin dan pejuang militan Palestina yang mendukung Yasser Arafat dalam menghadapi agresi Israel, serta Jenderal Michel Suleiman (bhs. Arab: ميشال سليمان‎), Presiden Libanon saat ini.

Di kalangan sastrawan, kita mengenal nama Gibran Kahlil Gibran bin Mikhā’īl bin Sa’ad (bhs. Arab: جبران خليل جبران بن ميکائيل بن سعد), dikenal juga sebagai Kahlil Gibran, dimana saat ini buku-bukunya sangat disukai dan membanjiri toko-toko buku di Indonesia. Sebelum itu, banyak penyair dan pencipta lagu Indonesia yang minimal cukup dipengaruhi oleh Kahlil Gibran, mulai dari Taufik Ismail, Katon Bagaskara, Dani “Dewa 19”” yang malah “dituduh mencontek” Gibran, hingga mimbar-mimbar Pengajian Ramadhan K.H. Abdullah Gymnastiar. Popularitas Gibran terus melambung, mengatasi batas-batas bahasa, bangsa bahkan perbedaan agama. Sedangkan dari kalangan akademisi, kita bisa menyebut Edward Wadie Saïd (bhs. Arab: إدوارد وديع سعيد‎, Idwārd Wadī’ Sa’īd) Edward Said, penulis buku “Orientalisme”” yang bukunya selalu dijadikan rujukan oleh beberapa penulis Muslim Indonesia untuk mengecam arogansi Barat. Lucunya, kedua sastrawan dan intelektual di atas dianggap oleh orang-orang Kristen dan umat Islam di Indonesia adalah orang Muslim, padahal keduanya adalah orang Kristen.

Tidak banyak pula orang Indonesia yang tahu, bahwa penulis Kamus Bahasa Arab berjudul “Al-Munjid” yang terkenal itu adalah 2 orang rahib dari tarekat Serikat Yesus (Ordo Yesuit; Latin: Societas Iesu) dari Gereja Roma Katolik bernama Louis Ma’luf al-Yassu’i dan Fr. Bernard Tottel al-Yassu’i; juga sebuah buku terkenal berjudul “Dictionary of Arabic Printed Books” ditulis oleh Yusuf Alian Sarkis, seorang Kristen Orthodox Koptik Mesir. Dan, hampir semua Kitab Kuning yang dipakai Pesantren-pesantren di Indonesia diterbitkan oleh Percetakan Kristen di Libanon.

Di bawah ini adalah daftar orang-orang Krsiten Arab (termasuk orang-orang Kopt dan Chaldeans dan Asyur) yang terkemuka:

• Suleiman Mousa, sejarahwan terkemuka dan penulis biografi Major T.E. Lawrence: An Arab View”, orang Yordania, Kristen Katolik (Catholic Christian).
• George Wassouf, penyanyi Syria, Kristen Orthodox Syria (Syrian Christian).
• Edward Said, intelektual dan penulis terkemuka, orang Palestina, Kristen Protestan (Protestant Christian).
• Constantin Zureiq, intelektual dan akademisi terkemuka, orang Syria, Kristen Orthodox Yunani (Greek Orthodox Christian).
• George Habash, pendiri Front Populer untuk Pembebasan Palestina [The Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) (bahasa Arab: الجبهة الشعبية لتحرير فلسطين, al-Jabhah al-Sha`biyyah li-Taḥrīr Filasṭīn], orang Palestina, Kristen Orthodox Yunani (Greek Orthodox Christian).
• Nayef Hawatmeh, pendiri Front Demokrasi untuk Pembebasan Palestina [The Democratic Front for the Liberation of Palestine (DFLP) (bahasa Arab: 'الجبهة الديموقراطية لتحرير فلسطين', ditransliterasi Al-Jabha al-Dimuqratiya Li-Tahrir Filastin], orang Palestina, Kristen Orthodox Yunani (Greek Orthodox Christian).
• Afif Safieh, duta besar Palestina untuk Amerika Serikat (tanpa status diplomatik), orang Palestina, Kristen Katolik Yunani (Greek Catholic Christian).
• Said Khoury, usahawan, rekan-pendiri dari Gabungan Perusahaan Kontraktor Internasional (the Consolidated Contractors International Company), orang Palestina, Kristen Orthodox Yunani (Greek Catholic Christian).
• Yousef Beidas, ahli keuangan dan pemilik modal terkemuka (orang Palestina, Kristen Orthodox Yunani (Greek Orthodox Christian).
• John Sununu, pemimpin politik Amerika Serikat (orang Palestina -Lebanon, Kristen Katolik Yunani (Greek Catholic Christian).
• Hanan Ashrawi, sarjana dan aktivis politik Palestina, orang Palestina, Kristen Anglikan (Anglican Christian).
• Steve Bracks, Perdana Menteri Victoria, Australia, orang Lebanon, Kristen Katolik (Catholic Christian).
• René Angélil, produser Kanada dan suami dari Céline Dion, orang Lebanon-Syrian, Kristen Katolik Yunani (Greek Catholic Christian).
• Carlos Menem, presiden Argentina dari tahun1988-1999, orang Syria, menjadi Roma Katolik dari Islam.
• Emile Habibi, penulis Palestina warga negara Israel, orang Palestina warga Israel, Kristen Protestan (Protestant Christian).
• Azmi Bishara, orang Palestina warga Israel anggota Knesset (Parlemen Israel), Kristen Orthodox Yunani (Greek Orthodox Christian).
• Azmi Nassar, manager dari team sepak bola nasional Palestina, Kristen Orthodox Yunani (Greek Orthodox Christian)
• Salim Tuama, atlit klub olah raga Hapoel Tel Aviv, orang Palestina warga Israel, Kristen Orthodox Yunani (Greek Orthodox Christian)
• Simon Shaheen warga Israel-kelahiran Amerika Serikat, komposer, pemain oud dan violin, orang Palestina warga Israel, Kristen Katolik Yunani (Greek Catholic Christian)
• Salim Jubran, anggota Mahkamah Agung Israel, orang Palestina warga Israel, Kristen Maronit (Maronite Christian)
• Walid Shoebat, pejuang Palestina, orang Islam yang menjadi Kristen.
• Ralph Nader, aktivis hak-hak konsumen dan kandidat presiden Amerika Serikat (putera imigran Kristen Lebanon)
• Hani Naser, musisi, produser (putera seorang imigran Kristen Yordania).
• Aziz Suryal Atiya عزيز سوريال عطية Historian and Coptology pioneer.
• Boutros Ghali, Perdana Menteri Mesir بطرس غالي
• Monir Fakhri Abdel Nour, anggota Parlemen Mesir منير فخري عبد النور
• Youssef Boutros Ghali, Menteri Keuangan Mesir يوسف بطرس غالي
• Akhnoukh Fanous, Nasionalis Koptik اخنوخ فانوس
• Youssef Wahba Menteri Keuangan, Luar Negeri dan Perdana Menteri Mesir يوسف وهبى
• E. Kamel Ibrahim, Field Marshal, Mantan Kepala Angkatan Bersenjata, Kepala Pelatihan Fisik dan Psikologi Pasukan Khusus (Al Sa’Ka Regiment).
• Kamal Stino, Mantan Wakil Perdana Menteri Mesir كمال استينو
• Malik Cambar de Varda – Pemimpin dan Nasionalis Assyria, komandan Batalion Assyro Chaldean (1919-1922).
• Agha Petros, Jenderal Assyria di Iran
• Dan masih banyak lagi.

Anehnya, orang Kristen Indonesia yang karena dorongan “ideology pseudo-Biblikal” biasanya membabi buta membela Israel dalam kasus konflik Israel – Arab Palestina. Mereka tidak sadar, bahwa dengan sikapnya tersebut, indirectly, mereka menyetujui ribuan orang Kristen Arab harus dibantai oleh orang Israel dalam “konflik politik” itu (dan sama sekali bukan “konflik antar agama”). Sebab orang Kristen Arab Palestina itu berjumlah 27% sedangkan orang Yahudi-Israel yang menjadi Kristen hanya 3,2%. Lebih sedikit orang Yahudi yang beragama Kristen dibandingkan dengan orang Arab yang beragama Kristen. Hal ini karena orang Yahudi sejak dahulu dikenal sebagai bangsa yang ”tegar tengkuk” (”keras kepala”) [Kel. 32:9; 33:3, 5; 34:9, Ul. 9:6, 13; 2 Taw. 30:8; Yes. 48:4; Kis. 7:51]. Orang Yahudi bukan pemeluk agama Kristen, secara mayoritas mereka memeluk agama Yahudi (Yudaisme). Lihat saja bahkan untuk lambang dinas medis darurat, kecelakaan dan ambulans negara Israel bukannya Palang Merah (The Red Cross) yang dianggap lambang Salib Kristen, tetapi mereka memakai lambang ”Magen David Adom” (Bhs. Yahudi: מגן דוד אדום disingkat MDA atau Mada) atau “Red Shield of David” sering diterjemahkan juga sebagai “Red Star of David” (Bintang Daud Merah atau, terjemahan harafiahnya, Perisai Merah Daud) yang mulai dibentuk sejak tahun 1930. Sedang lambang Bulan Sabit Merah (The Red Crescent) pertama kali digunakan selama konflik bersenjata antara Rusia – Turki (1877–1878) dan dipakai secara resmi tahun 1929. Saat ini Bulan Sabit Merah digunakan oleh 33 negara Islam.

Juga orang Kristen Indonesia tidak sadar, ketika perang Amerika dan Irak pada tahun 1990-an. Negara Amerika, polisi sombong dunia itu telah menghantam dan menghancurkan komunitas Kristen Irak. Sebuah perkampungan Kristen Irak dimana Taman Eden beserta Adam dan Hawa, kehidupan manusia pertama itu bermula dan tempat dimana Abraham (Nabi Ibrahim), Bapa orang beriman itu berasal.

Palestina dikenal di dalam Alkitab dan dipandang sebagai tempat kelahiran kekristenan. Hal ini tidak boleh dilupakan. Ada beberapa negara Arab yang disebutkan sebagai ‘terlibat’ di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, jauh sebelum Islam muncul: Yordania, Mesir, Irak, dan Syria. Setelah kelahiran Islam barulah kekristenan hilang sama sekali dari negeri-negeri seperti Maroko, Algeria dan Tunisia dan Peninsula Arab.

Alkitab memberitahu kita, bahwa peranan bangsa Arab dalam mempersembahkan “emas dan kemenyan” (Yes. 60:6-7). Ini cocok dengan persembahan orang Majus (Arab), yaitu: kemenyan, emas dan mur (Mat. 2:1,11). Menurut J. Spencer Trimingham, orang Arab sudah ada di Palestina sejak zaman Perjanjian Lama, dan sudah ada yang mendengar Injil dan percaya sejak Yesus mulai melayani (Mrk.3:7-8) sehingga 3 tahun setelah Yesus bangkit dan naik ke surga, sudah ada pengikut Yesus di tanah Arab yang menyambut Paulus yang baru bertobat (Gal.1:15-17). Menurut kesaksian Injil, Yesus berkarya di “Galilea, daerah bangsa-bangsa” yang pada abad pertama adalah tempat berbaurnya suku-suku bangsa Asyur dan Arab. Di wilayah Kaisarea Filipi (sekarang Banias), tempat dimana Yesus menyatakan ke-Mesiasan-Nya dihuni oleh 50% suku Arab Iturea. Juga, pada saat Pentakosta (Kis. 2:9-11), pada tahun 33 M, Roh Allah tinggal di dalam hati orang-orang Arab.

Pada Konsili (majma) Di Nicea (325) hadir 9 uskup Arab dan pada Konsili di Khalsedon (451) hadir 21 uskup Arab, ini menunjukkan bahwa saat itu sudah banyak orang Arab menganut kekristenan. Trimingham juga mengungkapkan bahwa dari inskripsi Arab Utara ditemukan bukti bahwa bahasa orang Arab berakar bahasa Aram (bandingkan bahasa orang Israel yang juga berakar bahasa Aram, Ul.26:5), kemudian Nabati-Aram, dan menjadi bahasa Arab, dan sudah lama nama ‘Allah’ menjadi padanan ‘El’ Semitik (Allah yang Esa dan Maha Tinggi) dan ‘Alaha’ Aram, dan sudah digunakan orang Arab Kristen jauh sebelum Islam lahir, bahkan pada Konsili Efesus (431) hadir uskup Arab bernama Abdellas (Abdullah) yang artinya ‘hamba Allah.’ Islam baru lahir pada tahun 622 yang menjadi awal tarikh Islam/Arab. Semua itu terjadi, jauh ketika suku bangsa Eropa dan Amerika masih primitif dan pemuja berhala.

Masyarakat Kristen Arab ini dianggap sebagai missing link antara dunia Kristen Barat dengan Dunia Islam. Karena, lewat masyarakat Kristen Arab inilah berbagai titik temu, contoh toleransi dan kesaling-pengertian nampak jelas terbangun .

Apa yang membuat masyarakat Kristen Arab istimewa adalah fakta bahwa selain mereka termasuk kelompok masyarakat paling awal yang memeluk ajaran Yesus, juga mereka mengalami dilema hidup yang tak kalah kompleksnya jika dibandingkan sejawatnya yang asli Yahudi. Mereka secara etnis adalah bangsa Arab, namun karena pilihan kepercayaannya menjadikan mereka semacam “alien” di tengah lautan masyarakat Arab lainnya yang memeluk Islam. Konflik berbasis agama ini telah berlangsung sejak awal keberadaan masyarakat Kristen Arab ini. Mulai jaman Romawi, bangkitnya Islam di bawah panji-panji Rasullulah dan dilanjutkan berbagai dinasti yang silih berganti menguasai wilayah yang mereka diami.

Tak terkecuali jaman sekarang. Konflik semakin memuncak dengan kacau balaunya kebijakan luar negeri negara-negara Barat – yang notabene juga identik dengan Kristen – dengan puncaknya pada kampanye perang global anti terorisme dibawah pimpinan Amerika Serikat. Masyarakat Kristen Arab semakin terjepit, karena keimanan mereka menempatkan mereka di titik penuh kecurigaan dari para tetangga muslimnya, namun di saat bersamaan mereka tak sepenuhnya setuju dan mendukung kebijakan perang yang dikampanyekan negara-negara Barat.

Namun, selain konflik berdarah, di sana juga terlihat wujud nyata toleransi beragama. Di mana biara-biara Kristen banyak berdiri dan dikunjungi tak hanya oleh pengikut ajaran Yesus namun juga kaum muslim, hingga kebiasaan untuk saling hadir dalam acara perkawinan, kematian, dan bahkan pada perayaan hari-hari besar keagamaan.

sumber: terangdaritimur.blogspot.com